”Cucur! Cucur!.... Cucurrrr!....”
Dulu, sekitar tahun 1978-an, samar-samar diingatanku, kalau ikut Bapak menengok rumah yang sedang dibangun, ada seorang penjual kue yang sangat kuingat nama dagangannya: kue cucur. Belakangan setelah rumah itu jadi dan kami sekeluarga pindah untuk menempatinya, aku baru tahu nama anak remaja penjualnya: Mas Bagyo. Anak asli kampung/kelurahan sebelah, Blumbang Purbalingga Lor. Sampai sekarang kalau makan kue cucur jadi ingat masa-masa itu.
Belakang rumahku persis (dulu) persawahan membentang luas ke arah utara dan timur, ke utara sampai sejauh satu kilometer lebih ke timur sekitar dua kilo-an. Jadi kalau dulu aku suka naik pohon jambu klutuk (biji) di samping rumah yang tingginya sekitar 5 meter-an, sejauh mata memandang ke arah utara dan timur adalah sawah. Perkampungan di seberang persawahan terlihat meng-gerumbul hijau. Menyembul dari gerumbul pepohonan itu rumah-rumah penduduk sebesar kuku jari jempol kaki. Saat musim kemarau yang dingin di pagi hari, persawahan dan perkampungan tersebut telihat memutih karena diselimuti embun tebal....
Lukisan sawah tadi dilatarbelakangnya adalah Gunung Slamet, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa (+3.400 m dpl), menjulang di sebelah utara-barat dan pegunungan Serayu Utara di sebelah utara membentang mulai dari kaki gunung di barat membentang ke timur. Terangkai dengan pegunungan Serayu Utara, di ujung timur, bila cuaca cerah, dengan background jingga saat matahari terbit terlihat samar-samar dua gunung: Sindoro dan Sumbing di dataran tinggi Dieng. Sangat mirip lukisan-lukisan pemandangan anak TK.
-----------------
Rumpun padi mulai mengeluarkan bulir-bulir bijinya. Ada pekerjaan untuk kami anak-anak, yaitu mengusir burung pemakan padi. Kegiatan ini kami lakukan siang atau sore sepulang sekolah, juga hari libur atau minggu. Untuk hari libur atau minggu kegiatan ini dikerjakan mulai dari pagi-pagi buta. Kata ibuku, "Buruan mumpung masih pagi....jangan sampai kalian keduluan oleh burung-burung itu...."
Maka, walaupun jarak pandang masih terbatas, 6-10 meteran, tapi keributan sudah dimulai:
”Breng! Breng! Breng! Breng!.....sayooooooo……waaaaa!!!”
"Heah....heah...heah....!!!
Tugas dibagi. Satu atau dua orang bertugas menarik-narik ubrak (ini bahasa di keluarga kami), dua orang lagi berjaga di tengah areal sawah. Ubrak adalah batang-batang bambu yang dipancangkan di tempat-tempat tertentu di areal persawahan, diujung-ujungnya dipasangi kaleng bekas yang diisi kerikil, diberi rumbai-rumbai plastik bekas atau dibuat orang-orangan sawah. Kemudian antara satu dengan lainnya di-install/dihubungkan dengan tali rafia/plastik bermuara di satu tempat dimana operator nantinya berjaga, biasanya di tempat yang teduh: di bawah pohon pinggir sawah, gubug atau dangau. Bila operator sudah beraksi menarik tambang-tambang plastik, maka keributan dari kaleng-kaleng berisi kerikil akan terdengar dari ujung ke ujung dimana ubrak di-install. Ramai.....
Sementara anak yang berjaga di tengah areal sawah: berteriak-teriak sambil memukul-mukul kaleng rombeng berlari kesana-kemari di pematang (galengan) dari satu petak sawah ke petak sawah yang lain ke tempat dimana gerombolan burung turun mengincar padi kami. Karena seringkali, walaupun sudah di-ubrak-ubrak dan diteriaki burung-burung itu tetap bandel bertengger dan dengan asyiknya (seperti mengejek kami) mengupas (nisil-bhs jawa) lalu memakan butir-butir padi dengan terampil. Bahkan kalau mereka hinggap di tengah petak sawah yang agak jauh, kalau belum dilempar dengan bongkahan tanah kering mereka belum merasa takut....
”Breng! Breng! Breng! Breng!.....sayooooooo……waaaaa!!!”
"Heah....heah...heah...!!!
Serentak berhamburan, ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan burung-burung pipit[1], manyar, gelatik dan entah burung apa lagi, terbang dari tandan-tandan padi. Saking banyaknya burung-burung yang terbang dalam formasi bergerombol itu terlihat bergulung-gulung menghitam di ketinggian.
Dua ratus ubin[2] di belakang rumah persis, Bapak punya sawah garapan. Sebetulnya tanah milik desa, tanah/sawah bengkok[3], cuma karena status desa kami beralih menjadi kelurahan maka tanah desa yang semula menjadi hak garapan kepala desa yang sedang menjabat, kemudian disewakan kepada warga yang mau menggarapnya. Kata Bapak, uang sewanya masuk kas kelurahan untuk operasional harian/rumah tangga kantor lurah: beli gula, teh, kopi dan urusan dapur lainnya kalau ada rapat-rapat di kantor lurah.
Sejatinya Bapak tidak menggarap sendiri sawah tersebut. Sawah digarap dengan sistem maro[4] dengan anak mantu bawahan Bapak, Pak Mul. Bapak hanya sekali-sekali benar-benar turun ke sawah. Sore pulang kantor, kalau ngga kecapean, tapi yang pasti hari Minggu jika tidak ada kegiatan lain . Bisa seharian, dari pagi sampai sore, pulang paling makan siang dan sholat.
******************
Dua ratus ubin[2] di belakang rumah persis, Bapak punya sawah garapan. Sebetulnya tanah milik desa, tanah/sawah bengkok[3], cuma karena status desa kami beralih menjadi kelurahan maka tanah desa yang semula menjadi hak garapan kepala desa yang sedang menjabat, kemudian disewakan kepada warga yang mau menggarapnya. Kata Bapak, uang sewanya masuk kas kelurahan untuk operasional harian/rumah tangga kantor lurah: beli gula, teh, kopi dan urusan dapur lainnya kalau ada rapat-rapat di kantor lurah.
Sejatinya Bapak tidak menggarap sendiri sawah tersebut. Sawah digarap dengan sistem maro[4] dengan anak mantu bawahan Bapak, Pak Mul. Bapak hanya sekali-sekali benar-benar turun ke sawah. Sore pulang kantor, kalau ngga kecapean, tapi yang pasti hari Minggu jika tidak ada kegiatan lain . Bisa seharian, dari pagi sampai sore, pulang paling makan siang dan sholat.
******************
Bawahan/anak buah bapak di PU Binamarga[5] puluhan jumlahnya. Kebanyakan tenaga honorer, pengabdian sering kudengar mereka menyebut dirinya, kuli kasar pembuat jalan atau tukang ngaspal begitu anak-anak dulu menyebutnya. Pak Mul (Mulyasin) biasa kami memanggilnya, salah satunya, mungkin waktu itu umurnya 45-an, guru ngaji kami sekeluarga. Sore hari selepas ashyar sampai ba’da maghrib, kami lima bersaudara (sebelum si bungsu lahir tahun 92) bergantian ngaji.
Setelah makan malam bersama, sambil menunggu sholat Isya, biasanya Pak Mul dan Bapak ngobrol sembari merokok. Rokoknya tingwe alias nglinthing dhewek (melinting sendiri). Seingatku, bahan-bahannya adalah papir (kertas rokok, adaptasi bahasa jawa dari paper) cap-nya bergambar wayang kulit (Kresna kayaknya), mbako (tembakau) rajangan, cengkeh wuwur (bergambar kalong/kelelawar) dan sebongkah kemenyan....... Perlengkapan merokok ini di kemas di sebuah wadah mirip dompet yang disebut slepen yang dibuat dari anyaman daun pandan (persis tikar pandan).
Nah.... pengalaman pertamaku mengisap-isap asep rokok ya waktu itu. Bapak sendiri waktu itu belum merokok, bapak merokok intensif kalau ngga salah saat aku kelas 6 SD.....
Pak Mul ini punya beberapa orang anak. Anak pertama dan kedua perempuan, sudah berkeluarga, suami-suami mereka atau anak mantu Pak Mul ini yang selama bertahun-tahun menggarap maro sawah di belakang rumahku itu.
******************
Nama kampungku adalah Karang Aglik, RT 03 RW 03 Kelurahan Wirasana Kabupaten Purbalingga. Di sebelah barat adalah Kelurahan Kembaran Kulon, di selatan adalah (kampung) Blumbang masuk Kelurahan Purbalingga Lor. Sebelah utara dan timur persawahan. Kurang lebih 1,5 km ke arah timur-utara, menyeberang areal persawahan adalah kantor lurah Wirasana atau biasa warga menyebut bale desa. Padahal waktu itu status desa[6] sudah berganti menjadi kelurahan[7]. Di sekitar kantor lurah (balai desa) itulah kampung-kampung, wilayah RT-RW berada, saling bertetangga. Sedangkan Karang Aglik, RT 10 RW 03, kalau dilihat dari topografi Wirasana terletak paling nyempil di pojok barat-selatan.
Sejak peristiwa Bapak terlambat menjemputku saat pulang sekolah di TK dulu (Bocah Sekang Purbalingga (1) - Episode Pertiwi), Aku kemudian diajarkan supaya bisa menerangkan alamat rumah kami.
Pak Mul ini punya beberapa orang anak. Anak pertama dan kedua perempuan, sudah berkeluarga, suami-suami mereka atau anak mantu Pak Mul ini yang selama bertahun-tahun menggarap maro sawah di belakang rumahku itu.
******************
Nama kampungku adalah Karang Aglik, RT 03 RW 03 Kelurahan Wirasana Kabupaten Purbalingga. Di sebelah barat adalah Kelurahan Kembaran Kulon, di selatan adalah (kampung) Blumbang masuk Kelurahan Purbalingga Lor. Sebelah utara dan timur persawahan. Kurang lebih 1,5 km ke arah timur-utara, menyeberang areal persawahan adalah kantor lurah Wirasana atau biasa warga menyebut bale desa. Padahal waktu itu status desa[6] sudah berganti menjadi kelurahan[7]. Di sekitar kantor lurah (balai desa) itulah kampung-kampung, wilayah RT-RW berada, saling bertetangga. Sedangkan Karang Aglik, RT 10 RW 03, kalau dilihat dari topografi Wirasana terletak paling nyempil di pojok barat-selatan.
Sejak peristiwa Bapak terlambat menjemputku saat pulang sekolah di TK dulu (Bocah Sekang Purbalingga (1) - Episode Pertiwi), Aku kemudian diajarkan supaya bisa menerangkan alamat rumah kami.
”Pokoknya mau naik becak, mau minta tolong dianter atau kalau ditanya siapa saja, bilang saja rumahmu di Jl. Ketuhu No. 11 ...”
Anehnya dari aku masih duduk di TK sampai aku lulus SMA alamat rumahku itu jarang sekali benar-benar dikenal orang. Yang ada, kalau aku menyebutkan nama jalan itu kepada seseorang, dahi orang yang mendengarnya pasti mengernyit sambil bertanya kembali ”Nama apaan tuh ?....” atau ”Sebelah mana ya ?....”
Pernah aku bertanya ke orang-orang asli atau warga yang lebih dulu tinggal di kampungku, mengenai asal-muasal nama tersebut. Namun banyak orang menjawab: ”Waduh mbuh lho, ora ngerti (Waduh ngga tau lho, ngga ngerti).....”
Justru dari orang kampung sebelah (Kampung Blumbang) aku pernah dapat cerita asal–usul nama ketuhu.
Sebelum nama ketuhu dipakai, wong Blumbang (orang Kampung Blumbang), yang kampungnya berada di sebelah selatan kampung kami, biasa menyebut nggili lor (jalan sebelah utara). Waktu itu, awal 80-an, nggili lor masih lebih banyak pekarangan/kebon dan sawah dibandingkan rumah penduduk. Pohon kelapa setinggi 15-20 m, berjenis-jenis pohon mangga, mbawang/kweni, rambutan, nangka, nangka sabrang/sirsak, berjenis-jenis pisang, bermacam-macam jenis jambu, singkong, waru, papringan (rumpun bambu), jambe (pinang) masih banyak dijumpai. Walaupun sudah ada listrik tapi kalau malam, selepas Isya, suasana jalanan sudah sepi. Suara jangkrik, gasir (sejenis jangkrik, ukurannya 3-4 kali lebih besar dari jangkrik biasa), bermacam-macam kodok, kurwok/manuk ayam-ayaman[8] dan suara binatang malam lainnya menjadi simponi malam yang merdu, namun juga kadang menakutkan bagi yang tidak biasa mendengarnya.
Pernah aku bertanya ke orang-orang asli atau warga yang lebih dulu tinggal di kampungku, mengenai asal-muasal nama tersebut. Namun banyak orang menjawab: ”Waduh mbuh lho, ora ngerti (Waduh ngga tau lho, ngga ngerti).....”
Justru dari orang kampung sebelah (Kampung Blumbang) aku pernah dapat cerita asal–usul nama ketuhu.
Sebelum nama ketuhu dipakai, wong Blumbang (orang Kampung Blumbang), yang kampungnya berada di sebelah selatan kampung kami, biasa menyebut nggili lor (jalan sebelah utara). Waktu itu, awal 80-an, nggili lor masih lebih banyak pekarangan/kebon dan sawah dibandingkan rumah penduduk. Pohon kelapa setinggi 15-20 m, berjenis-jenis pohon mangga, mbawang/kweni, rambutan, nangka, nangka sabrang/sirsak, berjenis-jenis pisang, bermacam-macam jenis jambu, singkong, waru, papringan (rumpun bambu), jambe (pinang) masih banyak dijumpai. Walaupun sudah ada listrik tapi kalau malam, selepas Isya, suasana jalanan sudah sepi. Suara jangkrik, gasir (sejenis jangkrik, ukurannya 3-4 kali lebih besar dari jangkrik biasa), bermacam-macam kodok, kurwok/manuk ayam-ayaman[8] dan suara binatang malam lainnya menjadi simponi malam yang merdu, namun juga kadang menakutkan bagi yang tidak biasa mendengarnya.
Katanya, dulu di rumah gedong[9] seberang rumahku, pemiliknya memelihara horhuk/manuk tu..uu (burung hantu). Nah, itu burung kalau candikala atau malam menjelang pasti mulai mengeluarkan suaranya: ”Tu..uu tu..uu tu..uu..”.
Nyaring. Bagi anak-anak suara itu adalah peringatan. bahwa waktu maghrib bukan waktu untuk bermain......
Dari suara burung tersebut dalam keseharian akhirnya muncul percakapan sebagai berikut:
”Arep maring ngendi (Mau kemana)?...”
”Maring dalan tu..uu (Ke jalan tu..uu)”
Lama kelamaan dari tu..uu kemudian bergeser menjadi ketuhu (?????)
---------------------
Seperti diceritakan sebelumnya, sejak aku masih duduk di bangku TK sampai lulus SMA alamat rumahku itu jarang sekali benar-benar dikenal orang. Bahkan tukang/abang becak yang biasanya kenal daerah-daerah atau jalan-jalan yang orang umum pun tidak tahu. Yang benar-benar tahu, setahuku nih... adalah:
1. Warga kampungku ;
2. Sebagian warga tetangga kampung ; dan
3. Pegawai kantor pos & giro bagian sortir surat dan bagian mengantar surat (pak pos)
Jika kami ”terpaksa” harus menjelaskan alamat rumah, entah itu ada orang bertanya, atau mau naik becak/ojek pulang ke rumah atau ada teman mau main ke rumah, bisa dipastikan akan terjadi percakapan sbb:
”.....Jl. Ketuhu....”
”Dimana tuh.....?”
”Perempatan Jl. Walik...ke timur...”
---Perempatan walik adalah pertemuan antara Jl. Ketuhu di timur, Jl. Walik di barat dan Jl. A.W Sumarmo membelah dari selatan ke utara
”Ooooo...Kembaran Kulon...” jawab si penanya mantap, merasa sudah menemukan jawaban.
”Bukan..! bukan..! dari perempatan ke timur!! Kembaran Kulon kan perempatan ke utara....”
” Jadi Blumbang dong ?!?!? Iya..iya..Blumbang...”
”Bukaannnn..! sebelah utara-nya Blumbang......Karang Aglik... Karang Aglik!”
”Karang Aglik?!?”
Nyaring. Bagi anak-anak suara itu adalah peringatan. bahwa waktu maghrib bukan waktu untuk bermain......
Dari suara burung tersebut dalam keseharian akhirnya muncul percakapan sebagai berikut:
”Arep maring ngendi (Mau kemana)?...”
”Maring dalan tu..uu (Ke jalan tu..uu)”
Lama kelamaan dari tu..uu kemudian bergeser menjadi ketuhu (?????)
---------------------
Seperti diceritakan sebelumnya, sejak aku masih duduk di bangku TK sampai lulus SMA alamat rumahku itu jarang sekali benar-benar dikenal orang. Bahkan tukang/abang becak yang biasanya kenal daerah-daerah atau jalan-jalan yang orang umum pun tidak tahu. Yang benar-benar tahu, setahuku nih... adalah:
1. Warga kampungku ;
2. Sebagian warga tetangga kampung ; dan
3. Pegawai kantor pos & giro bagian sortir surat dan bagian mengantar surat (pak pos)
Jika kami ”terpaksa” harus menjelaskan alamat rumah, entah itu ada orang bertanya, atau mau naik becak/ojek pulang ke rumah atau ada teman mau main ke rumah, bisa dipastikan akan terjadi percakapan sbb:
”.....Jl. Ketuhu....”
”Dimana tuh.....?”
”Perempatan Jl. Walik...ke timur...”
---Perempatan walik adalah pertemuan antara Jl. Ketuhu di timur, Jl. Walik di barat dan Jl. A.W Sumarmo membelah dari selatan ke utara
”Ooooo...Kembaran Kulon...” jawab si penanya mantap, merasa sudah menemukan jawaban.
”Bukan..! bukan..! dari perempatan ke timur!! Kembaran Kulon kan perempatan ke utara....”
” Jadi Blumbang dong ?!?!? Iya..iya..Blumbang...”
”Bukaannnn..! sebelah utara-nya Blumbang......Karang Aglik... Karang Aglik!”
”Karang Aglik?!?”
---------------------------------
Bersambung........ di episode lainnya.....kapan-kapan
---------------------------------
---------------------------------
[1] Di daerahku disebut manuk (burung) prit. Ada prit peking yang totol-totol dadanya, prit brondol/bondol yang putih kepalanya, dan prit gantil yang coklat tua belang krem/putih (paling banyak jumlahnya dibanding peking dan bondol).
[2] Satuan luas tanah di daerahku 1 ubin = 14 m2
[3] Bengkok adalah sebidang tanah/sawah milik desa yang diberikan kepada kepala desa selama masa jabatannya, untuk dikelola dan diambil hasilnya sebagai pendapatan bagi sang kepala desa. Luasnya berbeda-beda antara satu desa dengan desa lainnya. Setelah masa jabatan selesai, pilkades lagi dan terpilih kepala desa baru maka tanah bengkok menjadi hak kepala desa yang baru.
[4] Dikelola pihak kedua, hasil panennya dibagi dengan perbandingan/presentase sesuai kesepakatan kedua belah pihak.
[5] DPU terdiri dari 3 divisi, setahu saya dulu disebut subseksi, yaitu: Subseksi Binamarga (bidang jalan & jembatan), Subseksi Pengairan (bidang pengairan/irigasi) dan Subseksi Ciptakarya (bidang bangunan/gedung)
[6] Desa dikepalai oleh kepala desa. Dipilih langsung oleh warganya melalui prosesi pilkades (pemilihan kepala desa), tapi orang biasa menyebut pilihan lurah. Tidak digaji pemerintah tapi mendapat bengkok (lihat not 3) selama masa jabatannya
[7] Kelurahan dikepalai oleh lurah (kepala kelurahan), tidak dipilih oleh warga. Lurah adalah pegawai negeri dalam hal ini pegawai PEMDA yang diangkat oleh Bupati. Jadi ia digaji oleh pemerintah dan mendapat tunjangan jabatan selama masa jabatannya.
[2] Satuan luas tanah di daerahku 1 ubin = 14 m2
[3] Bengkok adalah sebidang tanah/sawah milik desa yang diberikan kepada kepala desa selama masa jabatannya, untuk dikelola dan diambil hasilnya sebagai pendapatan bagi sang kepala desa. Luasnya berbeda-beda antara satu desa dengan desa lainnya. Setelah masa jabatan selesai, pilkades lagi dan terpilih kepala desa baru maka tanah bengkok menjadi hak kepala desa yang baru.
[4] Dikelola pihak kedua, hasil panennya dibagi dengan perbandingan/presentase sesuai kesepakatan kedua belah pihak.
[5] DPU terdiri dari 3 divisi, setahu saya dulu disebut subseksi, yaitu: Subseksi Binamarga (bidang jalan & jembatan), Subseksi Pengairan (bidang pengairan/irigasi) dan Subseksi Ciptakarya (bidang bangunan/gedung)
[6] Desa dikepalai oleh kepala desa. Dipilih langsung oleh warganya melalui prosesi pilkades (pemilihan kepala desa), tapi orang biasa menyebut pilihan lurah. Tidak digaji pemerintah tapi mendapat bengkok (lihat not 3) selama masa jabatannya
[7] Kelurahan dikepalai oleh lurah (kepala kelurahan), tidak dipilih oleh warga. Lurah adalah pegawai negeri dalam hal ini pegawai PEMDA yang diangkat oleh Bupati. Jadi ia digaji oleh pemerintah dan mendapat tunjangan jabatan selama masa jabatannya.
[8] Burung/unggas sawah, habitatnya sawah/lahan padi (tanah berlumpur), kakinya panjang, larinya cepat, tidak bisa terbang jauh paling sekitar 5-10 meter dengan ketinggian terbang 5 meter-an, pemakan ikan kecil-kecil dan anak kodok (bancet), warnanya hitam-putih belang. Bunyinya kur...kur...kur....lalu bersahut-sahutan kurwok... kurwok... kurwok... kurwok....
[9] Rumah gedong adalah sebutan untuk rumah besar permanen. Dulu awal, 80-an di kampungku dan kampung tetangga masih jarang rumah permanen yang dibuat dari semen. Kebanyakan rumah berdinding papan kayu atau gedeg/gribig (anyaman bambu). Dengan atap limasan.
[9] Rumah gedong adalah sebutan untuk rumah besar permanen. Dulu awal, 80-an di kampungku dan kampung tetangga masih jarang rumah permanen yang dibuat dari semen. Kebanyakan rumah berdinding papan kayu atau gedeg/gribig (anyaman bambu). Dengan atap limasan.
