Jumat, 25 Juli 2008 sekitar pukul 10.00, sebelum sholat Jumat. Uminya Nabilah telpon katanya kondisi Mbah Kakung tidak kunjung membaik. Hasil laboraturium pertama, 21 Juli, indikasinya ke arah tekanan darah yang naik turun cenderung naik, gula darah tinggi, kolesterol dan gangguan pencernaan. Dari hasil tersebut 3 hari bapak rawat inap. Kamis pulang tak kunjung membaik, hingga akhirnya datang telpon dari kakak-kakak dan adik-adik iparku kalau bapak bilang pengin ketemu dengan anakku Nabilah.
Jumat malam dalam pikiranku sudah ada skenario istri dan anak-anak besok pagi aku anter ke Stasiun Jatinegara, pulang ke Purbalingga naik Purwojaya via Purwokerto, aku tidak ikut. Tapi setelah aku sampaikan, Umi menolak, katanya mending naik travel, Sabtu sore, langsung sampai tujuan. Kalo naik kereta di Purwokerto ngga ada yang njemput.
Aku tengok jam dinding : 21.30. Terlintas obrolan dengan teman kemarin siang kalo katanya Rabu libur, tanggal merah Isra Mi'raj. Kulihat kalender - bener juga ....... Kuambil LA menthol-ku..... Saya bilang ke istri pokoknya siapkan saja segala perlengkapan anak-anak, saya mau keluar dulu, nemuin Pak RT dan anak-anak bola yang akan main Minggu sore.
22.30 pulang dari RT. Aku lihat tas baju besar sudah siap, juga tas perbekalan/perlengkapan susu, makanan kecil. Aku siapin Eiger-ku, oblong 2 lembar. celana pendek satu, kemeja satu daleman 5 set. Ngga bisa tidur sampai pukul 01.45 Sabtu dinihari.
Adzan Subuh, aku bangunin istri. Saya bilang siapin anak-anak, mandi-sarapan, jangan sampai lebih dari pukul 07.00, kita pulang naik si Katy - Katana.
Akhirnya 07.30 lepas dari rumah. 08.00 persis masuk gerbang tol Tambun. Zaidan happy-happy saja, ndak tau kita mau kemana. Nabilah yang nanya, "Bi...kita berangkat dari stasiun kereta mana bi..." Habis nganter nanti abi pulang...." Aku iyain saja. Sampai saat keluar tol Cikampek baru dia tau "Ah ini mah abi ikut pulang....ini kan jalan kalo mau pulang kampung...." Tahu dia.......
Sepanjang pantura yang membosankan anak pertamaku, Nabilah, bolak balik tanya sudah dekat apa belum, masih lama apa ngga. Zaidan molor terus, bangun paling kalo mobil berhenti karena istirahat.

Jumat malam dalam pikiranku sudah ada skenario istri dan anak-anak besok pagi aku anter ke Stasiun Jatinegara, pulang ke Purbalingga naik Purwojaya via Purwokerto, aku tidak ikut. Tapi setelah aku sampaikan, Umi menolak, katanya mending naik travel, Sabtu sore, langsung sampai tujuan. Kalo naik kereta di Purwokerto ngga ada yang njemput.
Aku tengok jam dinding : 21.30. Terlintas obrolan dengan teman kemarin siang kalo katanya Rabu libur, tanggal merah Isra Mi'raj. Kulihat kalender - bener juga ....... Kuambil LA menthol-ku..... Saya bilang ke istri pokoknya siapkan saja segala perlengkapan anak-anak, saya mau keluar dulu, nemuin Pak RT dan anak-anak bola yang akan main Minggu sore.
22.30 pulang dari RT. Aku lihat tas baju besar sudah siap, juga tas perbekalan/perlengkapan susu, makanan kecil. Aku siapin Eiger-ku, oblong 2 lembar. celana pendek satu, kemeja satu daleman 5 set. Ngga bisa tidur sampai pukul 01.45 Sabtu dinihari.
Adzan Subuh, aku bangunin istri. Saya bilang siapin anak-anak, mandi-sarapan, jangan sampai lebih dari pukul 07.00, kita pulang naik si Katy - Katana.
Akhirnya 07.30 lepas dari rumah. 08.00 persis masuk gerbang tol Tambun. Zaidan happy-happy saja, ndak tau kita mau kemana. Nabilah yang nanya, "Bi...kita berangkat dari stasiun kereta mana bi..." Habis nganter nanti abi pulang...." Aku iyain saja. Sampai saat keluar tol Cikampek baru dia tau "Ah ini mah abi ikut pulang....ini kan jalan kalo mau pulang kampung...." Tahu dia.......
Sepanjang pantura yang membosankan anak pertamaku, Nabilah, bolak balik tanya sudah dekat apa belum, masih lama apa ngga. Zaidan molor terus, bangun paling kalo mobil berhenti karena istirahat.

Jidatnya kejedot tiang teras rumah embah...besoknya jadi kaya' bisulan
18.30 sampai rumah mertoku. Istirahat 2 kali isi bensin 2 kali. Setengah jam setel platina di Bumiayu. Aku ambil jalur pantura, jalur utama, Brebes-Tegal-Slawi-Bumiayu-Purwokerto. Masuk Purwokerto kususuri jalan-jalan yang dulu sangat familier dengan perjalanan memori semasa kuliah. Dari arah Karanglewas perlintasan Sta-KA belok kiri ke arah stasiun terus Pasar Manis - gedung Suteja - lampu merah belok kiri - RSU lama - lampu merah belok kanan - DR Angka lewat depan mbah Sur (mbah jenggot) - Dynasti diskotek - lampu merah belok kiri - terus naik lewat depan UNSOED rektorat - (penuh warung tenda rupanya kalo malam sekarang) - pertigaan Jl. Kampus belok kanan lewat samping FISIP - Lapangan bola dan balai desa Grendeng - terus tembus (Pa)buaran - Tambaksogra - perbatasan Purwokerto Purbalingga - Padamara - Karangsentul - depan SMAN 1 - masuk Purbalingga dari arah barat......

Si Katy - yang membawa kami nengok mbah kakung
Selepas Isya DR Subhan datang, dokter yang S2 dan S3-nya di Jerman dengan spesialisasi pengobatan herbal. Setelah ngobrol sebentar bapak di terapi. Terapi (tenaga dalam-bioelektrik) pertama sejak bapak memutuskan melakukan pengobatan dengan pengobatan herbal atas saran paklik Zaenal (adik bungsu bapak). Selanjutnya Minggu, Senin dan terakhir Selasa aku antar bapak bolak-balik Purbalingga-Purwokerto untuk terapi. Dokter Subhan asli Sokaraja Banyumas, tinggal di Perumahan Dukuhwaluh, belakang Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Dokter, dosen dan peneliti pengobatan herbal, 3 bulan sekali bolak balik Indonesia-Jerman.
****
Malam Selasa menginap di rumah di Jl. Ketuhu No. 11 yang sekarang menjadi rumah dan ditinggali adikku, dua anak perempuannya (keponakanku) dan ibuku. Rumah ibuku - di sebelahnya - sekarang jadi kos-kosan, penuh anak-anak sekolah dan karyawan. Setelah anak-anak tidur, aku menyelinap keluar, ku-starter Katty, makan Mie Ayam Comal-nya Pak Saryadi di Jl. Walik. Dari situ pelan-pelan Katty kubawa menyusuri deretan warung tenda di Jl. AW Sumarmo, depan Dinas Perikanan dan Peternakan, 100 m dari rumah. Nongkrong di deretan warung tenda yang sebagian pemiliknya adalah beberapa teman masa kecilku.
18.30 sampai rumah mertoku. Istirahat 2 kali isi bensin 2 kali. Setengah jam setel platina di Bumiayu. Aku ambil jalur pantura, jalur utama, Brebes-Tegal-Slawi-Bumiayu-Purwokerto. Masuk Purwokerto kususuri jalan-jalan yang dulu sangat familier dengan perjalanan memori semasa kuliah. Dari arah Karanglewas perlintasan Sta-KA belok kiri ke arah stasiun terus Pasar Manis - gedung Suteja - lampu merah belok kiri - RSU lama - lampu merah belok kanan - DR Angka lewat depan mbah Sur (mbah jenggot) - Dynasti diskotek - lampu merah belok kiri - terus naik lewat depan UNSOED rektorat - (penuh warung tenda rupanya kalo malam sekarang) - pertigaan Jl. Kampus belok kanan lewat samping FISIP - Lapangan bola dan balai desa Grendeng - terus tembus (Pa)buaran - Tambaksogra - perbatasan Purwokerto Purbalingga - Padamara - Karangsentul - depan SMAN 1 - masuk Purbalingga dari arah barat......

Si Katy - yang membawa kami nengok mbah kakung
Selepas Isya DR Subhan datang, dokter yang S2 dan S3-nya di Jerman dengan spesialisasi pengobatan herbal. Setelah ngobrol sebentar bapak di terapi. Terapi (tenaga dalam-bioelektrik) pertama sejak bapak memutuskan melakukan pengobatan dengan pengobatan herbal atas saran paklik Zaenal (adik bungsu bapak). Selanjutnya Minggu, Senin dan terakhir Selasa aku antar bapak bolak-balik Purbalingga-Purwokerto untuk terapi. Dokter Subhan asli Sokaraja Banyumas, tinggal di Perumahan Dukuhwaluh, belakang Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Dokter, dosen dan peneliti pengobatan herbal, 3 bulan sekali bolak balik Indonesia-Jerman.
****
Malam Selasa menginap di rumah di Jl. Ketuhu No. 11 yang sekarang menjadi rumah dan ditinggali adikku, dua anak perempuannya (keponakanku) dan ibuku. Rumah ibuku - di sebelahnya - sekarang jadi kos-kosan, penuh anak-anak sekolah dan karyawan. Setelah anak-anak tidur, aku menyelinap keluar, ku-starter Katty, makan Mie Ayam Comal-nya Pak Saryadi di Jl. Walik. Dari situ pelan-pelan Katty kubawa menyusuri deretan warung tenda di Jl. AW Sumarmo, depan Dinas Perikanan dan Peternakan, 100 m dari rumah. Nongkrong di deretan warung tenda yang sebagian pemiliknya adalah beberapa teman masa kecilku.
Ketemu dengan beberapa teman masa kecilku. Tidak banyak yang berubah, hanya yang pasti usia kami sudah mulai masuk kepala tiga. Malam merambat pagi. Dinginnya udara musim kemarau menusuk tulang. Jangankan untukku yang sudah 8 tahun terbiasa dengan panasnya Bekasi, teman-teman Purbalingga-ku saja kedinginan.
Pukul 02.00 aku pulang, masuk kamar, kulihat anakku Nabilah ngompol. Kedinginan rupanya, padahal dari usia 2 tahun dia sudah tidak lagi mengompol.
****
Rabu pagi 06.00 tepat, start dari Purbalingga. Aku ambil jalur alternatif Purbalingga - Tegal via Pemalang. Melintasi pegunungan di bawah kaki Gunung Slamet. Pikirku sekalian tes mesin si Katy. AC aku matiin, jendela aku buka, udara dingin pagi pegunungan menyeruak masuk. Segar. Alkhamdulillah tanjakan dilewati dengan mulus. Temperatur mesin stabil di posisi seperempat. Dengan senyum terkulum aku bergumam, "Bandel juga ini mesin..."

Istirahat tempat istirahat setelah pintu masuk tol Cikampek : sholat-makan-pipis-ngopi-ngrokok
14.25 Sampai di rumah, Taman Raya Blok i 5/10 Tambun - Bekasi. Istirahat 2 kali isi bensin 2 kali.
****
Rabu pagi 06.00 tepat, start dari Purbalingga. Aku ambil jalur alternatif Purbalingga - Tegal via Pemalang. Melintasi pegunungan di bawah kaki Gunung Slamet. Pikirku sekalian tes mesin si Katy. AC aku matiin, jendela aku buka, udara dingin pagi pegunungan menyeruak masuk. Segar. Alkhamdulillah tanjakan dilewati dengan mulus. Temperatur mesin stabil di posisi seperempat. Dengan senyum terkulum aku bergumam, "Bandel juga ini mesin..."

Istirahat tempat istirahat setelah pintu masuk tol Cikampek : sholat-makan-pipis-ngopi-ngrokok
14.25 Sampai di rumah, Taman Raya Blok i 5/10 Tambun - Bekasi. Istirahat 2 kali isi bensin 2 kali.
.jpg)

.jpg)








