Ba'da Isya Rabu 24 September 2008 pulang dari Mataram - NTB. Besoknya - Kamis - tetep ngantor, maklum hari-hari terakhir Ramadan biasanya ada yang ditunggu, apalagi kalo bukan THR.
Sebentar siang di kantor sekitar pukul 10 ada telpon dari rumah, istri bilang Nabilah bangun tidur berasa demam. Hari ini Nabilah mulai libur sekolah menjelang Idul Fitri. Disuruh putus puasanya ngga mau. Memang dari hari pertama puasa sampai hari ke-25 ini puasanya belum pernah putus. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya putus lalu minum tempra-turun panas. Saat aku pulang kondisi nabilah sudah normal, main-main di teras dengan adiknya di teras rumah.
Sorenya, setelah maghrib -malam Jumat- sekeluarga kami berpamitan ke Pak RT, kalau kami mau pulang kampung malam Sabtu atau Sabtu pagi. Menjelang aku ajak Nabilah sholat Isya, sebelum berjamaah dia bilang, "Bi aku sholat Isya aja ya ngantuk..." Aku jawab, "Ya udah nanti terus tidur, istirahat."Setelah salam, kembali Nabilah bilang, "Bi aku pake slimut ya... Dingin banget nih...."Aku heran biasanya dia paling ngga mau tidur pake selimut, apalagi minggu-minggu nampaknya panasnya musim kemarau sudah di atas normal. Aku hampiri, kupegang dahi kemudian lehernya, "Walah panas gini lho.... " Kupanggil istriku yang sedang ngeloni Zaidan untuk memastikan, "Iya nih Bi... dianter ke dokter saja sana... mumpung masih jam segini"
Kutengok jam dinding.....19.45...."Ya udah Abi mau tarawih dulu, Umi siapin Nabilah, pake jaket, kaos kaki...."
Singkat kata, aku berdua Nabilah dengan naik si Katty, tiba di tempat praktek dr. Rita, depan POM bensin lama Mangunjaya, sekitar pukul 20.30. Antri, setelah 2 orang pasien berlalu giliran kami dipanggil. Periksa punya periksa analisa dokter adalah : tenggorokan merah berarti radang, ada sedikit batuk dan pilek. Saat aku tanya, "Dok perutnya kok terasa panas ya dok...."
Kata dokter, "Iya...ini kalo nanti radangnya tidak mereda bisa sampai ke perut/lambung maka jadi typus..." Biasa sambil memberi wejangan (jangan makan ini jangan minum ini dll) ke anakku tangannya mencorat-coret resep hingga jadilah obat. Ada 5-7 macam obat kalo ngga salah....
Sampai di rumah kusampaikan apa yang dipesankan dokter pada istriku yang sedang melepas jaket dan mengganti baju tidur Nabilah. Omonganku terhenti saat istriku memotong, "Lho! Bi ini di dada dan perut kok pada mlenting kaya cacar air...." Aku mendekat - kuperhatikan, "Iya...ya tadi pas diperiksa pake stetoskop kan dada sama perutnya dibuka kayanya belum ada deh... Ya udah Mi coba telpon dokternya sana, itu di kartu periksa kan ada nomornya, mudah-mudahan belum tutup...."
Selesai menelpon kata istriku, dokternya nyuruh anaknya dibawa lagi kesana......
Kukeluarkan kembali si Katty yang telah masuk ke peraduannya. Masuk ruang praktek lagi (pukul 20.30) dokter Rita menanti dengan muka yang agak masam..... Tanpa basa basi lagi dia memeriksa anakku... periksa sana-sini, lihat sana-sini.... mulai keluar pesan-pesannya sbb :
- "Ini saya kasih anti virus yang bagus yaa (Acyclovir 400 mg) dan ada 5-6 jenis obat lainnya.... untuk 6 hari, minum sampai habis. Harusnya setelah habis kontrol tapi ini dua hari lagi mulai libur sampai tanggal 7 Oktober, mudah-mudahan setelah 6 hari sudah mendingan......"
- "Tetap mandi biar bersih dan tidak infeksi (sabunnya diganti dengan phisohex-cair), dibedakin (salicyl) biar ngga basah, lembab karena keringat. Kalo infeksi jadi koreng lama sembuhnya..."
- Makan minum yang bergizi.
- Istirahat total, ngga main-main dulu dan kena angin.
- Di rumah ada yang belum pernah kena cacar...? Jangan dekat-dekat dulu, ini sangat menular...
- dan bla...bla...bla....
**********
Alhasil disisa hari-hari menjelang berakhirnya bulan Ramadan, saat kebanyakan orang menyiapkan segala sesuatu bekal pulang kampung - bagi yang mudik - dan hidangan spesial untuk tetamu sanak famili - bagi yang tak pulang kampung - maka kami - aku dan istriku - justru sedang kalang kabut belanja menimbun bahan makanan (untuk kurang lebih stok 2 minggu) dan air mineral galon. Bagaimana ndak kalang kabut....awal Ramadan yang juga awal bulan September lalu - masih kuingat istriku tersenyum mantap sesaat setelah pulang belanja bulanan. Kala itu katanya dengan gaya nyengirnya yang khas, "Bi...ini stok sebulan - Insya Alloh - awal bulan depan ini nih... kan Idul Fitri, kita pulang kampung....jadi persediaan paling sisa dikit, di-pas-in saat kita nanti pulang balik dari kampung.....oke kan..!!!"
Waktu itu aku hanya manggut-manggut saja sambil mengelus-elus jenggot tanda mengiyakan.
Tapi apa yang terjadi di hari-hari menjelang lebaran ini sungguh bukan seperti yang kami perkirakan. Persediaan makanan sudah tipis, harga-harga sudah melambung tinggi (maklum menjelang lebaran), toko/pedagang kebutuhan sudah meng-ultimatum kapan mereka akan segera tutup karena pemilik maupun karyawannya akan segera libur lebaran. Tukang sayur keliling (yang kebanyakan orang-orang Wonogiri-Jateng) maupun di pasar tradisional juga sudah ancang-ancang libur. Jumat malam 26 September, satu persatu tetangga berangkat pulang kampung. Istriku pontang-panting hunting galon ke tetangga yang pulang kampung - sukses !!! lima galon air berhasil dipinjam - 3 galon langsung ditukar dengan air mineral merk Aqua di agen sebelah rumah. Dua galon lagi untuk air isi ulang keperluan memasak diisi di depot air isi ulang. Pengalaman dua lebaran tidak pulang kampung memberi pelajaran pada kami bahwa stok yang susah dicari adalah : bahan makanan basah (sayur, daging, telur) dan air mineral. Karena praktis satu minggu sebelum dan setelah lebaran agen-agen besar/distributor sudah tidak mengirim stok lagi ke toko/agen-agen kecil di pemukiman. Libur.
Sementara kami sibuk menimbun makanan mirip tupai mau musim salju, anakku Nabilah terkurung di kamarnya. Adiknya, sebentar-sebentar mencuri-curi lihat (ngintip) ketika pintu kamar kakaknya terbuka saat istriku atau aku (kami berdua saat seumuran Nabilah sudah pernah "kena" cacar air) keluar-masuk merawat kakaknya. Bosan dan kesepian. Mereka sama-sama bosan dan kesepian main sendiri-sendiri. Soalnya, biasanya di hari libur seperti ini waktu mereka habis untuk bermain, bercanda dan kadang-kadang ber-antem - ledek-ledekan -ramai. Aku dan istriku kasihan juga sebenarnya melihat dua bocah itu. Tapi mau pegimana lagi daripada adiknya ketularan. Seperti cerita teman sekantor yang tinggal di blok sebelah, sebulan sebelum bulan puasa. Awalnya anak pertamanya kena cacar, tertular temannya di sekolah. Jarak beberapa hari adiknya yang belum sekolah. Giliran anak-anaknya sudah mo sembuh, ibu-bapaknya yang dapat "jatah" cacar.....
**************
Selasa malam, 30 September 2008.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar !!!
Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar…
Allahu Akbar Walillahilhamd...
Suara bedug bertalu-talu, gema takbir, tahlil dan tahmid bersahutan. Sore selepas Isya, zakat Fitrah sudah kusetor ke amil panitia zakat di masjid komplek - Masjid Daarul Khairat Taman Raya Bekasi.
Gerah sehabis berbuka puasa hari terakhir Ramadan tahun ini terasa syahdu di kalbu. Suhu tinggi di ujung musim kemarau ini benar-benar menggigit. Siang terik, malam gerah. Tak ada angin meski di luar rumah. Suara takbir yang membuatku agak terlena dari hawa panas ini. Di teras rumah kopi dan Malboro menemaniku, jalanan depan rumah sepi. Dalam hati aku bergumam, monolog, "Rupanya lebaran tahun ini akan lebih sepi dari dua tahun berturut-turut. Iyalah....perekonomian sedikit membaik, perusahaan menggenjot produksinya, keuntungan naik, karyawannya dapat lemburan setahun ini, THR lebih daripada tahun lalu, daya beli masyarakat naik, transaksi perdagangan naik, masing-masing pihak dapat untung (sing rugi kucing = bubar ngising diurugi) pada akhirnya orang-orang punya tabungan untuk pulang kampung tahun ini.
Ayem. Bisa pulang kampung ketemu-sungkem dengan orang tua, silaturahmi dengan sedulur-sanak saudara. Trenyuh.
Satu hisapan terakhir Malboro-ku, bangun dari monolog-ku: 22.00 wib. Masuk ke rumah ke dalam senthong anakku, tertidur pulas ia. Kuraba leher dan dahinya. Sudah tak ada demam lagi sejak cacarnya keluar penuh. Kuperiksa sekujur tubuhnya, terlihat menghitam - mulai mengering gelembung-gelembung cacarnya.
Beralih ke kamar sebelah. Istriku baru selesai ngasih susu botol ke Zaidan. Kami berbincang. "Coba telpon Bulik Semi lagi, tanya kalo udah kering bisa dibawa "jalan" ngga Nabilah."
(Tadi sore ba'da Ashar antibiotik (Acyclovir) terakhir akan segera habis, istriku telpon ke Bulik Semi yang apoteker minta pendapat. Kata beliau, "Beli saja lagi untuk enam hari..." Jadi tadi sore aku grubag-grubug nyari apotik yang masih buka. Alkhamdulillah dapet.)
Sehabis telpon istriku bilang, "Bisa...bisa diajak jalan. Asal badannya dibedakin rata biar ngga gerah - berkeringat di perjalan..."
"Siapkan perlengkapan secukupnya, untuk satu minggu, setelah sholat Ied kita pulang kampung!!................."
Willy Artho sekeluarga mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir batin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar