Kamis, 22 Mei 2008

Bocah Sekang Purbalingga (1) - Episode Pertiwi


Aku lahir di kabupaten Purbalingga, kata ibuku di Panti Nugroho sebuah balai pengobatan yang lebih dikenal sebagai balai bersalin, tepat di "Hari Koperasi" tahun 1976. Aku laki-laki, anak nomor empat dari lima bersaudara (tadinya) karena sampai saat aku kelas 1 SMA (tahun 1992) dan adikku kelas 2 SMP, adikku punya adik lagi. Laki-laki. Jadi sejak saat itu formasi kami menjadi enam bersaudara empat perempuan dua laki-laki : Erlly Kurniati, Erna Heryanti, Tri Wachyuni, Aku, Dini Lestarini dan Aji Widiatmoko

Dari enam bersaudara, lima anak mengawali kehidupannya di rumah kami di belakang kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga cabang Banyumas Utara di Kelurahan Bancar, kurang lebih 1 km arah timur alun-alun Purbalingga. Di pinggir sungai terbesar di Purbalingga, Kali Klawing. Masa-masa itu belum banyak memory yang dapat aku rekam, hanya lamat-lamat saja.

Adikku lahir Agustus 1978, perempuan, menurut cerita Bapakku tidak lama kemudian, kalau tidak salah Maret tahun 1979, kami sekeluarga boyongan ke rumah baru kami. Arah Utara alun-alun Purbalingga, tepat di depan rumah kami ada pal/pathok (tonggak) 1 km, penunjuk jauhnya jarak dari pusat kabupaten. Pusat kota kabupaten identik dengan pendopo kabupaten, alun-alun dan masjid besar.[1]


---TK Pertiwi cabang Purbalingga---

Slamat sore pak !
Slamat sore bu !
Slamat sore kawan-kawanku....
Inilah kami...putra TK Pertiwi cabang Purbalingga

Lagu di atas adalah lagu pembukaan pada saat kami, anak-anak TK Pertiwi, pada waktu-waktu tertentu mengadakan acara siaran radio di RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) Purbalingga. Pengambilan suara pagi hari, disiarkan/diudarakan sore hari selepas Ashar. Setelah lagu pembukaan tadi, acara silih berganti. Ibu guru sebagai mc (master ceremony) memandu acara sambil memperkenalkan nama-nama kami, murid-murid yang mengisi acara setiap akan atau selesai tampil memperdengarkan suaranya. Ada yang menyanyi, baik solo, duet atau berkelompok, baca puisi atau deklamasi dan hafalan atau membaca doa.

Sekolah pertamaku adalah TK Pertiwi cabang Purbalingga. Lokal kelasnya ada di lingkungan Kantor PEMDA Kabupaten Dati II (waktu itu masih pake Dati II) Purbalingga. Gurunya perempuan semua, yang masih aku ingat namanya adalah: Bu Wiwi, Bu Koko dan dua ibu guru lagi lupa namanya. Bu Wid ibu kepala sekolah, beliau selalu mengenakan pakaian kebaya (kaya yang difoto-foto R.A Kartini gitu) lengkap dengan sanggul dan selop tali-tali dengan hak rendah. Rapi. Jadi total ada 4 guru dengan 1 kepala sekolah.

Pastinya tidak begitu ingat, tapi yang pasti masih di kelas nol kecil (tahun pertama) saat aku mulai dibujuk agar sekolah tanpa ditunggui lagi. Awal aku sekolah di TK memang ditunggui ibu, sambil beliau menggendong adikku.
Beberapa malam sebelum hari H, kakakku, perempuan, Mbak Yuni, sibuk mengajariku sambil membesar-besarkan hatiku agar tidak takut sekolah tanpa ada yang menunggui......

”Nih....kamu nanti kalau pagi dianter bapak, bareng aku, kan sekolahan mbak deket sekolahan kamu....” katanya, ”Nah kalau siang, pulangnya di jemput bapak....” sambungnya lagi.

Maka dengan rasa was-was hari pertama, kedua ketiga dan seterusnya aku lewati dengan lancar. Kepalaku serasa membesar dan sesak dadaku menahan rasa bangga, saat temen-temenku pada hari-hari itu melihat Bapakku pergi setelah mengantarku sampai ke ruang kelas, kemudian mereka mengerubungiku sambil memuji-muji kalau diriku sebagai anak yang pemberani......

***********
Untuk diketahui, alat transportasi Bapak ke tempat kerja adalah sebuah Vespa Piagio, yang bukan Bajaj atau Lambretta. Waktu itu masih memakai vespa yang masih bulat-bulat bener bentuk body-nya, vespa endog produksi tahun 1964. Warnanya biru belel mungkin karena sering mentok kesana-kemari. Apalagi bodi belakang yang mblenduk kanan-kirinya itu, catnya pudar, baret-baret keseringan buat bancikan anak-anak, baik aku, kakak-kakak maupun temen-temen kami yang sering pada enjot-enjotan di atasnya.

Speedometer yang memang mati, kacanya pecah saat diadu dengan janggut Mbak Yuni saat rem si-vespa blong hingga roda depan nyusruk menabrak trotoar/pedestrian. Saat itu janggut mbakku yang mbonceng berdiri di dek depan kejedot spidometer sampai pecah.....ya pecah janggutnya ya pecah kaca spidonya.....

Knalpotnya nih..... suka kendor baut pengikat manifold-nya. Kalau sedang kumat, karena ngga dicek dan dikencengin, entah karena terlalu kenceng bapak bawa tuh vespa atau karena guncangan jalan (waktu itu belum jamannya jalan Hotmix), itu knalpot suka lepas sendiri. Kalo ngga kewer-kewer di kolong vespa....ya jatuh tertinggal lepas sama sekali dari plat pegangan/gantungannya. Yang bikin tengsin saat knalpot copot itu suaranya.....brisiknya udzubillah.....
Bayangin saja, kalo lagi melaju di keramaian tau-tau knalpot lepas dan terdengar suara yang menyesakkan telinga itu..... Ditambah lagi, sambil tergopoh-gopoh, berlari-lari membawa gombal lap bapak ngambil itu knalpot yang ketinggalan, dicempal biar ngga kepanasan...... Sudah telinga sesak dada juga sesak karena malu.....ha.ha.ha.ha.ha...

Sampai Bapak pensiun (1995) dan meninggal dunia (2004) alat transportasi favoritnya tetep Vespa......berganti-ganti. Vespa terakhirnya adalah kenang-kenangan dari rekan sejawat waktu bapak pensiun: PX-150 tahun 1981

***********

Tapi mungkin karena kesibukan bapak di kantor, kadang-kadang kalau ngga mau dibilang sering, bapak terlambat menjemputku. Sampai suatu hari Bapak benar-benar terlambat. Saking terlambatnya ibu guru-ibu guruku sudah siap-siap pulang dan penjaga/pesuruh/tukang kebun sekolah (Pak Basori) sudah mulai mengunci ruangan kelas, kantor dan gudang, sementara Bapak belum juga muncul. Kata bu guru waktu itu sudah setengah 12 sementara jam bubaran sekolahku di TK adalah pukul 10.00. (kala itu aku belum mudeng sama jam)

”Lho belum pulang...? tanya bu guru heran melihat aku masih duduk menunggu di taman. Bekal dan air minum dalam termos juga sudah habis dari tadi.
”Belum di jemput bu guru...”
”Rumahnya dimana...” tanya bu guru lagi

.....Aku tak bisa jawab.....

”Siapa yang jemput biasanya? Bapak apa ibu?”
”Bapak kerja dimana?”
Yang ini bisa jawab, ”DPU....” tapi tidak menyelesaikan masalah
”PUK maksudnya ...?” bu guru balik bertanya.[2]

Bingung.......

Tukang-tukang becak yang biasa mangkal di depan pintu gerbang sekolah ikut nimbrung, tanya sana-sini mengorek-orek keterangan dari-ku, bikin mumet. Belakangan aku tahu maksud bapak-bapak tukang becak itu, yaitu: kalau mereka berhasil mengorek keterangan alamat rumahku maka ia akan dapat order mengantar pulang aku, tentu dengan harapan ongkos sepantasnya, dari ibuku di rumah, karena mengantar anak yang tidak dapat pulang sendiri dari sekolah ke rumahnya sendiri. Ha...ha...ha...

Gara-gara kejadian itu, bapak-ibuku, kakak-kakakku, pada malam harinya, menawarkan beberapa ospi solusi kalau-kalau kejadian ini terulang lagi.....

Kata ibuku, ”Kalau bapak belum jemput....kamu bareng Atin, kan dia dijemput pakai sepeda oleh ibunya...nanti ibu bilangin ke ibunya Atin...”
Atin, perempuan, adalah satu-satunya teman di TK yang rumahnya bertetangga denganku, satu RT. Dia diantar-jemput dibonceng sepeda oleh ibunya. Sepeda mini, biasa kami menyebut sepeda dengan ukuran roda ring 20'', berboncengan dengan formasi Ibu di depan, di boncengan belakang adiknya 4 tahun dan Atin.....Dimana aku mau menumpang....??? Ada-ada saja.....

”Kalau bapak nggak jemput-jemput sampai siang, kamu jalan kaki saja ke sekolah mbak...kan deket....trus nanti kita pulang bareng”
Mbak Yuni, anak nomor tiga, kakakku persis, dia juga alumni TK Pertiwi, waktu itu kalau ngga salah sudah kelas 3 SD. SDN Purbalingga Lor 4, seratus meter arah utara dari TK-ku, deket banget sebenernya. Cuma kalau mau ke sana memang harus keluar gerbang/lingkungan TK-ku, sehingga ibu tidak mengijinkan opsi ini.

”Kalau ngga....kamu bilang ke bu guru Bapak kerja di DPU Bancar depan SD Pius nanti minta tolong di telponin ke kantor.....” saran Bapak.
Belakangan saran ini aku tahu kurang efektif. Gimana ngga efektif, kasih tau kantor Bapak ke bu guru, bu guru pinjam telpon di kantor PEMDA karena sekolah ngga punya, eiit....dicari dulu nomornya di buku telpon, masih untung kalo buku telponnya ngga ketlingsut/ngga lupa naruhnya, biasanya pesawat telepon di ruangan pejabat/pimpinan, udah gitu telpon waktu itu kan ngga langsung dial tapi ke operator dulu, baru oleh operator disambungkan ke nomor yang dituju.....ribettttttt.

Tapi dari semuanya, kakak, ibu dan bapak akhirnya sepakat, diwakili Kakak pertamaku, Mbak Erlly (Mbak Enk, luwesnya kita biasa memanggil):
” Pokoknya mau naik becak, mau minta tolong dianter atau kalau ditanya siapa saja, bilang saja rumahmu di Jl. Ketuhu No. 11 ...”



-----------------y.a.d Ada apa dengan Jl. Ketuhu No. 11

[1] Kalau ngga salah ini adalah konsep tata kota Jawa yang kental dengan falsafah budaya Hindu-Islam. Pendopo dengan atap berundak di utara alun-alun menghadap selatan (otomatis kalo ditarik garis lurus menghadap ke laut selatan) adalah tempat pak Bupati ngantor/komplek kantor PEMDA. Di gerbang komplek pendopo ada dua patung penjaga di kanan-kiri (berbentuk buto). Di depan gerbang (di alun-alun) di kanan-kiri, mengapit jalan masuk, pohon beringin besar kokoh berdiri. Sebelah barat alun-alun adalah kampung Kauman dengan masjid besarnya. Di sebelah timur, tempat orang-orang yang melanggar aturan/hukum menginap, gedung penjara.
[2] Sebelum masa reformasi/otonomi daerah, pemerintah daerah kabupaten disebut Pemerintah Daerah Tingkat II (PEMDA DATI II). Di sebuah wilayah kapubaten tersebut ada instansi-instansi daerah di bawah otoritas bupati kepala daerah tingkat II dan ada instansi- instansi vertikal (pusat) di daerah. Nah...kalau Bapak bekerja di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga Cabang Banyumas Utara Provinsi Jawa Tengah adalah instansi vertikal. Sedangkan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten (DPUK atau sering disebut orang PUK saja) adalah Dinas di bawah PEMDA Dati II

Tidak ada komentar: